Bayiku Dimakan Leak


Aku asli perempuan Jawa Tengah, suamiku asli orang Bali. Sebut saja namaku Sri dan suamiku Gusti, kami berumah tangga sudah setahun dan sekarang di tahun kedua pernikahan aku hamil. Ini adalah anak yang kami idam-idamkan selama ini. 

Diawal-awal menikah aku dan mas Gusti sudah bolak-balik ke dokter kandungan, vonis yang kuterima dari dokter itu adalah aku lemah kandungan dan sangat kecil sekali kemungkinan untuk bisa hamil. Mendengar vonis dari dokter itu membuat aku dan mas Gusti shock, tapi mas Gusti bisa mengendalikan diri tapi tidak dengan aku.

Setelah dokter memvonisku lemah kandungan, mas Gusti tidak henti-hentinya menyemangatiku, dia sangat peduli, perhatian yang mas Gusti berikan luar biasa untukku.
"Dek, dokter hanya menyampaikan dengan ilmu yang mereka miliki, tetapi Allah yang maha pencipta lebih tau segala-galanya. Jangan percaya seratus persen sama dokter cukup percaya satu persen saja dan sembilan puluh sembilan adalah milik Allah", mas Gusti menenangkanku.
Kupeluk erat mas Gusti suamiku yang telah menerima dan mengerti aku.

Aku dan mas Gusti tidak menyerah, kami tetap berobat herbal untuk bisa mendapatkan keturunan. Segala macam yang berbau pengobatan herbal kami coba, seperti pengobatan herbal yang terakhir yaitu j*r*s s*h*t ala Rasulullah, dan alhamdulillah membuahkan hasil.

Setelah 2 minggu rutin menjalani pengobatan herbal tersebut aku positif hamil dan kabar ini sangat menggembirakan bagi semua keluarga kami.
"Mas, aku hamil mas", kupasang wajah paling bahagia dengan senyum manisku
"Itu kan benar kata mas, usaha dan doa tidak akan menghianati hasil", mas Gusti mencubit manja hidungku, aku cengengesan.
---

Hari ini kami kembali ke Bali, mas Gusti tidak bisa lama-lama di Jawa meskipun ditengah pandemi covid, apalagi sekarang ibu tinggal sendirian setelah Nita pindah kerumah barunya.
Aku dan mas Gusti pulang ke Bali dengan menggunakan kapal karena hanya menyebrang lautan saja.

Didalam kapal kami duduk jauh dari penumpang lainnya, aku tidak terlalu suka keramaian.
Ada seorang perempuan duduk dikursi agak jauh dariku dia menatapku terus, aku melihat kearahnya namun tatapannya tidak berubah. Aku risih, ku whatsapp mas Gusti yang duduk disampingku, karena aku tidak mau bicara langsung.
Kuketik dilayar hapeku;
"Mas, coba lihat dong perempuan yang duduk di kursi dipojok itu, dia menatap aku terus mas", aku mengirimkan chat
" Astaghfirullah, dek baca shalawat", kata mas Gusti mengingatkan.
Aku membaca shalawat seperti yang kata mas Gusti, dan tidak melihat-lihat lagi ke arah perempuan itu.
---

Sesampai dirumah aku langsung disambut mertuaku, kemudian aku dipersilahkan untuk istirahat karena badan rasanya pegal semua, kulihat mas Gusti sedang minum teh bersama ibu di dapur. Aku sedikit mendengar percakapan mas Gusti dan ibu;
"Kamu itu Gus harus hati-hati disini, kamu kan tau sendiri gimana kalau perempuan hamil di Bali ini!", kata mertuaku
"In syaa Allah bu, semuanya baik-baik saja", lanjut mas Gusti.
Aku tidak mendengar apa-apa lagi, rasa kantuk semakin kuat menyerangku.

Aku bangun tidur lalu bergegas ke kamar mandi. Aku ingin mandi biar segar apalagi sedang hamil rasa panas itu terkadang tidak bisa ditahan.
Kulihat shampo habis di keranjang sabun, kuurungkan niatku untuk,mandi kupakai lagi pakaian yang sempat kubuka.

"Mau kemana Sri?", tanya mertuaku dari dapur
"Mau kewarung bu, beli shampo!",
"Ini bawang merahnya dibawa", mertua menghampiriku
"Untuk apa bu bawang merah?", aku tidak mengerti maksud ibu
"Untuk jaga-jaga biar tidak di dekati leak", kata mertuaku penuh semangat
"Nanti saja saya beli bawang merahnya di warung, bawangnya juga 2 siung lagi", kataku membantah
Sepanjang jalan aku mengingat bawang merah, kenapa ya bisa-bisa ibu beranggapan kalo bawang merah membuat leak menjauh, bukannya do'a itu lebih mustajabah dari apapun?

"Bu, beli shampo p*nt*n* , terus sama bawang merah campur bawang putih setengah kilo", kataku kepada bu Timah
"Iya mba, mba menantunya bu Imah ya?", sambil tangannya menimbang bawang
"Iya bu, saya baru pulang dari Jawa".
Melihat perutku yang mulai membesar kemudian bu Timah melanjutkan
"Hati-hati disini mba, banyak leak. Dia suka sekali dengan wanita hamil",
"Iya bu", aku berlalu pulang

Dijalan aku bertemu dengan seorang perempuan, aku tidak mengenalnya, dia mengikutiku dari belakang, matanya seperti melotot ke arahku. Kupercepat langkah kakiku, aku takut kalau benar itu wujud leak di siang hari. Ku coba tepiskan rasa takutku seraya kubaca doa mohon perlindungan aku tidak berani lagi melihat ke belakang, aku terus berdo'a dalam hati agar dilindungi dari makhluk itu. Sampai dipintu pagar rumah kuberanikan menoleh ke samping kiri kanan, tapi tidak terlihat lagi sosok perempuan tadi padahal sepanjang jalan tidak ada rumah orang. Aneh !

---
Aku termenung diruang tamu sambil nonton televisi, aku masih penasaran dengan hantu leak yang mendiami pulau Dewata ini. Iseng ku ambil gawai kutelusuri google antara berani dan tidak aku sudah mengetik dipenelusuran "hantu leak".
Belum sempat searching(pencarian) ibu memanggilku untuk makan bubur kacang kesukaanku apalagi ibu sangat senang memasak apapun untukku.

"Sri, ibu tinggal sebentar ya, mau mengantar jahitan untuk kasur bayi kerumah bu Yudha, kamu istirahat saja dirumah jangan kemana-mana",

"Baik bu, titip salam buat budhe ya".

Ibu memang sangat antusias sekali menyambut kelahiran bayiku nanti, semua perlengkapan bayi ibu yang siapkan.

Kulahap pelan bubur kacang hijau masih hangat-hangat di mangkuk rasanya enak sekali bubur kacang ala mertuaku. Aku mendengar gawaiku bernyanyi, ah! biarkan saja mungkin adikku yang miskol, dia suka sekali miskol aku untuk kasih kode biar aku yang menelpon balik. Aku tidak menghiraukannya, tiba-tiba suara menggema dari gawaiku "aaauuuuwwwwwww" jelas sekali terdengar, aku bangkit dari tempat dudukku menuju ruang tamu dan kulihat layar gawaiku masih menyala, kulihat tidak ada panggilan tak terjawab dan dipencarian google masih tertulis "hantu leak", aku merinding dan segera menghapusnya.
---

"Mas, aku tidur duluan, ngantuk sekali",

"Iya, mas nonton berita dulu",

Aku sama ibu sudah tidur sedangkan mas Gusti sendirian nonton televisi, aku mendengar bunyi gamelan dari luar rumah. Aku tidak bisa tidur padahal tadi sudah hampir terlelap.

"Mas, mas dengar suara gamelan tidak".

"Mana ada suara gamelan malam-malam, dari tadi mas disini tidak mendengar apa-apa".

Lalu mas Gusti diam sejenak seperti merasakan sesuatu,

"Yuk, kita tidur dek, mas sudah ngantuk juga", sambil memegang tanganku

Kulihat mata mas Gusti mengawasi kiri kanan sambil mulutnya komat kamit. Aku tidak lupa tetap membaca doa-doa dan ayat kursi.

"Tidurnya jangan telentang dek ya, sambil terus baca shalawat".

"Iya mas".

Mas Gusti membaca ayat kursi tiga kali kemudian meniupnya di telapak tangan sesudah itu mas Gusti mengusap tangannya ke badanku dari kepala sampai ujung kali berulang-ulang sampai tiga kali.
---

Hari terus berlalu, usia kandunganku memasuki trimester 3 dan prediksinya 1 minggu lagi akan melahirkan. Ibu melarangku melakukan aktifitas rumah tangga, tugasku rutin berjalan-jalan dipagi hari agar mudah ketika bersalin nanti.

"Bu, gimana sih wujud hantu leak itu?",

"Serem pokoknya, udah Sri engga perlu tau, yang penting kalau sudah jam 5 sore langsung masuk rumah, jangan keluar malam-malam. Kalau mendengar suara-suara aneh jangan didekati. Perbanyak berdo'a siang malam".

"Inggih, bu".

Aku berjalan-jalan dihalaman rumah saja sesuai dengan perintah ibu, aku melihat didepan pintu pagar ada anak kecil berdiri disana, kupikir Ade anak tetangga kuperhatikan sepertinya bukan Ade anak yg kulihat itu berambut panjang. Aku sudah melangkah menuju pintu pagar,
"Sri, jangan keluar", suara ibu mengagetkanku
Aku melihat kearah ibu dan kupalingkan lagi kearah pintu pagar tetapi anak kecil tadi sudah hilang entah kemana perginya.
Ibu sepertinya juga melihat anak kecil itu makanya melarangku keluar. Tapi ibu selalu enggan memberitahuku, aku merasa aneh selama hamil ini tapi ibu selalu menutupinya, mungkin ibu tidak ingin yang terbaik untukku.

Malamnya aku mimpi ada nenek-nenek masuk ke kamarku wajahnya seram menampakkan gigi taringnya, aku menjerit tapi suaraku seperti tertahan. Dia meraba-raba perutku dan lidahnya menjulur keluar menyapu perutku. Aku menendang-nendang menghinarinya, tendangan kakiku berhasil membangunkan mas Gusti, mas Gusti membantu menyadarkanku, sambil terus membaca ayat kursi.
Aku terbangun dan memeluk mas Gusti aku ketakutan. Keringat dingin menguncur dari pori-poriku, aku memegang perutku bayiku bergerak tidak karuan.
Mas Gusti terus saja menenangkanku, dan memintaku untuk bercerita besok hari saja. Aku tidur dipelukan mas Gusti sampai pagi.

Dihadapan ibu dan mas Gusti kuceritakan semua mimpiku tadi malam, mas Gusti dan ibu saling pamdang. Namun tidak ada diantara mereka yang mau menjelaskannya, mereka memilih diam dan memintaku agar jangan lupa membaca al-qur'an dan do'a mohon perlindungan.
---

Jam 02.30 WITA aku merasa perutku sakit, aku merasa kontraksi dibagian bawah perutku. Aku membangunkan mas Gusti, mas Gusti memanggil ibu yang kamarnya bersebelahan dengan kamarku.

"Bu, sepertinya Sri mau melahirkan", ucapku dengan nada tertahan

"Gus, coba kamu telpon Gita",

"Baik bu",

Kulihat mas Gusti berkali-kali memencet tombol gawainya, tapi sepertinya tidak berhasil menghubungi bidan Gita.

"Tidak aktif nomor Gita bu",

Lalu ibu meraba-raba bagian bawah perutku,
"Masih belum terlalu turun perutnya" kata ibu

"Mudah-mudahan masih ada waktu sampai pgi nanti"

Aku bersandar didada mas Gusti, rasa sakit semakin hebat kurasa,
"Gusti, temani Sri. Biar ibu yang menjemput Gita"

Bidan Gita datang dengan tas lengkap peralatan melahirkan.
Aku berbaring dikasur yang sudah dilapisi karpet, bidan Gita mulai memeriksaku,

"Sudah pembukaan tujuh, tidak lama lagi in syaa Allah lahir", kata bidan Gita

Bidan Gita menyuntikkan obat di infusku, kurasa kontraksi semakin kuat. Bidan Gita sudah siap dengan kaos tangannya dan siap menangani alu melahirkan.

"Iya, ngejan bu, nafasnya dari bawah tekan bu.
Tarik nafas panjang jangan putus-putus", perintah bidan Gita

Aku melakukan semua perintahnya
"Uuuwaa uuuwaaa", aku berhasil melahirkan.

Aku terkulai lemas tapi bahagia karena buah hatiku lahir dengan selamat. Bidan Gita memanggil mas Gusti dan ibu, bidan Gita kelihatan sedih begitu juga dengan ibu, beberapa kali ibu mengusap ujung matanya, mas Gusti seakan pasrah sedangkan aku semakin penasaran.

"Kenapa bu dengan bayi Sri", aku sedikit gemetar

Kali ini ibu yang mengambil alih menjelaskannya kepadaku,
"Sri, apapun yang terjadi ini adalah takdir Allah, bayi kamu tidak ada tempurung kepala karena dimakan leak",

Aku tidak percaya dengan semua ini,
"Darimana ibu tahu?",

"Dari mimpi kamu, itu adalah wujud leak sebenarnya",

Aku melihat mas Gusti membisu sambil menatap lekat bayi mungil kami,
"Aku ingin menggendongnya", pintaku sambil bulir-bulir bening terus membasahi pipiku

Kugendong bayiku kepalanya lembek seperti ubur-ubur namun tulang wajahnya kokoh, mas Gusti mengusap-usap rambutku, detak jantungnya masih terdengar pelan ku coba untuk menyusu, tapi gerakannya lemah sekali, aku menciumnya kemudian kurasakan detak jantungnya berhenti tiba-tiba.

0 Komentar

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel