Anak Belajar Sedekah


Dari kecil hidup keluargaku pas-pasan. Walau hidup banyak kekurangan, tapi Ibu secara tidak langsung mengajari aku sedekah.

Setiap jum'at kalau ada tukang sampah yang rutin lewat, Ibu menyisipkan uang ketanganku 10 ribu lalu menyuruhku "Berikan ke tukang sampah".

Kalau ada penjual keliling kehujanan, Ibu akan panggil ke rumah diberi teh hangat dan makan seadanya. Lalu ditinggalkan biar dia santai berteduh.

Walau kekurangan Ibuku anti berhutang. Dia suka melihat tetangga kaya punya mobil, tapi kalau belanja ke tukang sayur berhutang, dibayar sebulan sekali atau ga tentu.

Tukang sayur suka mengeluh ke Ibu. Kalau ga diijinkan berhutang mereka tak mau belanja ke dia. Ibu cuma terdiam atau menghibur bila mendengar keluhan tukang sayur.

Akhirnya ibu berpesan padaku "Kamu jangan pernah berutang, apalagi ke penjual kecil. Mereka butuh modal agar uang bisa diputar jadi barang dagangan lagi".

Kebiasaan Ibuku kutularkan kepada anak-anakku sejak mereka balita sudah mulai kuajarkan sedekah.  Dengan harapan jadi pahala jariyah buat ibuku serta anak belajar sedekah.

Kalau kulihat ada ortu renta tak berdaya ketemu dijalan, kuhentikan motor, dan kuselipkan uang ke tangan anakku supaya diberikan kepada orang tsb.

Kadang ada anak kecil jualan, walau tidak butuh dengan jualanya, kubeli dan biar anakku yang bayar, diberi uang lebih. Misal harga 5 ribu anakku bayar 20 ribu. Ga mau terima kembalian.

Andai jum'at libur kubawa anak membeli setandan pisang atau beli nasi bungkus sekian kotak, berikan ke Masjid. Agar yang mau/setelah shalat Jum'at jamaah bisa ikut menikmati. Karena biasanya shalat jum'at diadakan pas jam istirahat makan siang, minimal mereka ada ganjal diperut.

Kadang aku parkir motor dekat masjid biar anak melihat bahagianya jamaah ambil apa yang kita simpan di teras Masjid.

Saat anak sekolah ternyata tidak perlu kuajarkan sedekah lagi, dia rela menyerahkan semua uang jajannya bila melihat nenek renta duduk di  pinggir jalan.

Sering kudengar dia ga jajan di sekolah karena diberikan kepada orang ini-itu karena suatu alasan. Biasanya saat dia cerita, aku ganti uang jajannya saat sampai rumah. Walau bahagia tapi ada prihatin, berarti dia di sekolah menahan haus dan lapar.

Kadang dia cerita, menyesal menghabiskan uang jajannya, karena saat menunggu dijemput, dia lihat kakek duduk berteduh sendiri.

Kadang dia cerita menyesal tak bisa memberi uang, jadi dia berikan makanan hasil jajannya. Atau dia bilang "Uang jajan sisa 500, masa dikasihkan segitu. Tapi ga apalah. Kan kakek tahu aku anak kecil" Lalu sambil malu-malu dia berikan uang tsb. Malu kasih uang receh. Aku dengarnya terharu. Aku cuma bilang "Bagus. Tak apa sedikit asal ikhlas"

Saat SD setiap jumat dan pelajaran olah raga kuberikan uang lebih kepada anak-anakku agar dibagikan kepada anak-anak yatim dikelasnya.

Setiap jum'at anak yatim di kelas dapat 10 ribu/anak. Kalau olah raga dapat 15 ribu/anak. Apakah uangku banyak? Tidak. Tapi kuusahakan memberi kepada mereka.

Sekarang saat SMP teman sekelasnya orang kaya. Jadi ada sesal ga bisa beri anak yatim. Tapi anak punya cara sendiri, uang jajannya dibelikan banyak permen atau camilan, lalu dibagikan keteman-temannya. Walau hanya sebungkus snack, dia merasa tetap harus menawarkan ke orang.

Ternyata sedekah bikin ketagihan.

0 Komentar

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel