-->

Pertolongan Allah Itu Sangat Dekat


 

Pertolongan Allah itu sangat dekat
Aku menghela nafas panjang ketika melihat isi dompet yang hanya tinggal dua ribu rupiah, sedangkan waktu menuju gajian masih lama, 3 minggu lagi. Di tengah pandemi seperti ini, sulit sekali mencari pekerjaan. Gaji suamiku tak mencukupi kebutuhan kami dengan 3 orang anak. Sulungku perempuan kelas 9, yang kedua lelaki kelas 6 SD dan si bungsu perempuan berusia 1 tahun.

Sebelum corona melanda, aku bisa mencari pkerjaan sampingan untuk menambah kekurangan keluarga, entah itu menjadi buruh cuci di komplek perumahan, atau pekerjaan lain nya, hasilnya Alhamdulillah lumayan dan hidup kami selalu berkecukupan karena penghasilanku kalau di hitung2 bisa sampai separuh dari gaji suamiku.

Tapi sekarang, sulit sekali. Kemana2 menanyakan pekerjaan selalu jawaban nya 'tidak ada'.

Berbulan-bulan menjalani keadaan seperti ini, membuat aku dan suami harus pintar-pintar mengatur pengeluaran. Tabungan habis, pekerjaan tak ada. Beruntung suamiku tak terkena PHK.

Ku teliti lagi isi dompet, berharap ada selembar uang yang terselip disana. Ku buka-buka lemari, laci-laci, bahkan tempat mainan anakku ku bongkar, karena biasanya si bungsu suka melempar koin ke kotak itu. Tapi hasil nya nihil. Tak seperakpun ku temukan uang.

Sesak dada ini memikirkan bagaimana hidup kami kedepan nya, sedangkan suamiku pun aku tahu dia tak punya uang juga.

Meminjam ke saudara? Ah, rasanya sudah malu aku. Yang bulan kemarin saja belum aku kembalikan.

Bingung, sangat bingung. 'Aku harus bagaimana Ya Allah, berilah petunjuk, berilah pertolonganMu dalam keadaanku saat ini' bisikku dalam hati. Tak kuat ku membendung air mata.

"Baaangg, beliiiii." teriak si tengah dari luar. Membuatku tersadar dari lamunan. Aku bergegas keluar rumah dan melihat si tengah sedang berdiri di samping gerobak es doger.

Kesal rasanya dengan kelakuan nya yang tak mau minta uang terlebih dahulu kepadaku, untung masih ada 2 ribuan. Akhirnya ku ikhlaskan 2 ribu itu melayang ke tukang es.

Setelahnya ku nasihati anak-anakku agar tak jajan dulu karena aku tak punya uang lagi. Bersyukur mereka nurut.

"Maa, makan lauknya apa?" kata si sulung.

Aku menghela nafas.

"Pakai kecap saja ya nak, mama belum punya uang. Mudah-mudahan nanti sore bapak pulang bawa uang, kita bisa beli mie di warung." ku paksakan senyum walaupun sulit sekali.

Ku lihat wajahnya murung, mengambil nasi dengan terpaksa. Karena sebenar nya sulungku tak suka kecap, bau katanya.

Siang berganti sore, adzan ashar berkumandang. Ku ambil wudhu dan melaksanakan perintahNya. Selesai sholat, aku menangis, menangis dengan rasa sesak yang teramat dalam. Melihat keadaan anak-anakku, melihat keadaan kami.


"Ya Allah, aku bingung, aku ga tau harus bagaimana lagi, kemana lagi aku harus mencari uang untuk kebutuhan kami. Ya Allah, Engkau yang Maha Kaya, Engkau Yang Maha Pengasih dan Penyayang, bukalah jalan rizki kami. Tolong kami Ya Allah dalam kesulitan kami saat ini. Mudahkan suamiku dalam usaha nya dan kesulitan nya. Tolong kami Ya Allah...".

Aku terisak dalam sujudku.

Setelah selesai, sedikit lega rasanya rasa sesak di dada.

Pukul 5 sore, suamiku pulang. Mengucap salam dengan wajah lesu nya. Aku faham, pasti bang imam tak dapat pinjaman.

Setelah suamiku selesai bebersih, kami duduk di depan tv. Ku hidangkan goreng garam untuk santapan kami sore ini. Walaupun cuma bawang, cabai dan garam, tapi nikmat rasanya. Ini nasi dan lauk terakhir kami, di dapur sudah tak tersisa apapun. Beras, bahan makanan sudah habis semua.

Setelah makan..

"Gimana, Bang? Dapat uang nya?"

Bang imam menghela nafas.

"Ngga, Dek."

Ku lihat raut sedih di wajahnya.

"Ya Sudah gak apa-apa. Tapi, bagaimana besok, Bang. Beras habis, bahan makanan pun udah ga ada sisa, aku udah ga pegang uang sama sekali."

Bang Imam terdiam, akupun terdiam. Kami hanyut dalam fikiran kami masing-masing. Di tengah keheningan, ponselku berbunyi, ternyata Abang ku yang menelfon.

"Asslamualaikum, halo Bang."

"Waalaikumsalam, Neng buka WA ya."

Belum sempat ku jawab sudah di matikan telefon nya.

Bergegas ku buka aplikasi warna hijau tersebut. Yah, ini kuota ku dapatkan dari Abangku, untuk belajar si sulung. Selalu ku hemat- hemat agar cukup untuk komunikasi dan belajar. Ku buka chat dari Abang ku.

'Neng minta nomor rekening. Abang ada sedikit rezeki buat anak-anakmu'

Alhamdulillaahh... Ucap syukurku. Ku kirimkan nomor rekening Bang Imam dan segera ku beritahu suamiku itu dengan kabar gembira ini.

"Bang, coba lihat ini." kataku antusias

Bang Imam membaca chat Abangku dan berucap syukur dengan mata berkaca-kaca.

"Alhamdulillah, Dek. Rezeki anak-anak."

"Iya, Bang."

Setelah menunggu, selepas isya Abangku chat bahwa sudah di kirim sebesar 500ribu. Subhanallah...

Tak henti-henti nya ku bersyukur dengan derai air mata bahagia.

Ku ucapkan banyak terimakasih kepada Abangku. Ku kirimkan chat..

'Bang, apa ini ga kebanyakan, 500 ribu?'

'Udah gak apa-apa, Abang kan jarang kasih jajan anak-anak mu karena jarak kita jauh. Kebetulan Abang dapet bonus dari kantor.'

'Makasih banyak ya, Bang." ku selipkan emot peluk dan cium untuknya

'Iya sama-sama.'

Ternyata Abangku meminta nomor rekening semenjak jam setengah 4 sore, dimana aku baru saja selesai menjalankan sholat ashar dan pada hari itu hari jumat.

Mungkin disini banyak yang tahu keistimewaan waktu ashar pada hari jumat, tapi jujur, pada saat itu aku tak sadar kalau hari itu adalah hari jumat.

Dengan derai air mata aku meminta pertolonganNya dan Alhamdulillah langsung di ijabah.

Terimakasih Ya Allah


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel