Perjanjian Dengan Mahkluk Goib


intan.me : Namanya Monah, perempuan desa biasa, terlihat sangat lugu, umurnya baru 30 tahun, tapi ini kehamilannya yang ke-5. Keempat anaknya sudah meninggal waktu masih bayi.

 Entah apa penyebabnya, setiap bayinya berumur 3-7 bulan, tiba tiba muntah muntah setiap kali menyusu pada ibunya. Setiap diteteki menangis dan rewel terus. Seminggu kemudian meninggal dunia.

Suaminya buruh bangunan di kota, pulangnya tidak tentu, bisa sebulan bahkan dua bulan baru pulang ke rumah.


Setelah sholat dhuhur, aku siapkan tas berisi peralatan pemeriksaan bayi, fetoscope, tensimeter digital, handscoend steril, dan metline. Sudah menjadi kebiasaanku. Setelah pelayanan di Poliklinik Desa sampai jam 11 siang, aki lihat buku kohort ibu hamil, untuk melihat ibu hamil mana yang harus segera di kunjungi, untuk memantau kesehatannya.

Perhatianku tertuju pada Monah, hamil beresiko karena sudah yang ke-5 kalinya. Hari perkiraan lahirnya juga sudah lewat seminggu. Pemeriksaan terakhir dia tak suruh USG karena aku curiga dengan posisi bayinya.

Jam 2 siang aku sampai rumahnya. Sangat sepi, pintu depan tertutup, tapi kelihatannya tidak terkunci. Lingkungan sekitar rumah sedikit menyeramkan, banyak sekali papringan,  tumbuhan pring yang sangat rimbun dan daunnya bertebaran kemana mana. Apalagi belakang rumahnya langsung  bersebelahan dengan komplek kuburan desa.

" Assalamualaikum..." aku memberi salam agak keras supaya penghuninya bisa mendengar.
Sepi gak ada jawaban, aku ulangi salamku sampai 3 kali, tetep tak ada jawaban.

Suasana sangat sepi dan tintrim, hanya gemerisik daun pring yang terdengar. Lamat lamat aku dengar suara rintihan dari dalam kamar. Aku diem memperjelas pendengaranku, benar, ada suara lirih kesakitan dari dalam kamar.

Segera aku masuk rumah tanpa permisi, kubuka kain korden pintu kamar. MashaAllah, Monah terbaring lemah sendirian diatas tempat tidur, kesakitan sambil memegangi perutnya. Kelihatannya mau melahirkan.

Segera kuperiksa tekanan darahnya, perutnya.
Deg... aku kaget ketika tidak meraba gerakan bayi, aku periksa pake fetoscope, juga sudah tidak terdengar detak jantung bayinya. Segera periksa dalam, jantungku rasanya mau berhenti berdetak. Aku meraba bokong dan kaki bayi yang menumbung.

Luar biasa panik, aku lari keluar rumah mencari bantuan tetangga.  Beruntung ada seorang bapak di depan rumah, aku minta tolong segera mencari mobil, untuk merujuk Monah kerumah sakit.

Bapak itu segera naik motor, mencari mobil. Tak tunggu sampai setengah jam, baru bapak itu kelihatan. Dengan nafas terengah engah dia bilang, mobilnya gak bisa dipakai bannya bocor belum diganti.

Aku bener bener panik, ku telfon semua warga yang punya mobil, tapi tak ada satupun mobil yang bisa dipakai.

Akhirnya bapak itu kusuruh mencari mobil, kedesa sebelah. Sudah hampir maghrib, belum juga ada mobil yang bisa mengangkut Mona ke rumah sakit.

Ketika adzan maghrib terdengar, mobilnya datang. Setelah sholat maghrib sebentar, langsung aku minta tolong tetangga mengangkat Monah keatas mobil.

Hujan mulai rintik rintik, ketika aku dan Monah sudah siap berangkat. Jalanan yang masih tanah berbatu mulai licin. Ketika jalan 20 meter, tiba tiba ban mobil selip, tepat di depan komplek kuburan.

Digas berkali kali, mobil tetap tidak mau jalan. Ban terjebak diantara tanah dan lumpur. Mentalku benar benar down. Hujan makin lama makin deras.

Supirnya juga kelihatan makin emosi, dia seperti marah dengan mobilnya. Digas sekenceng kencengnya, mobil tetep tidak bergerak.

Suasana kian menyeramkan, kulihat komplek kuburan, batu nisan seperti mengejekku. Berdiri angkuh di tengah hujan dan kilat yang menyambar. Aku menangis, benar benar menangis sejadi jadinya.

Tak tau harus berbuat apa. Pak sopir turun dari mobil, minta bantuan tetangga, untuk menyingkirkan batu yang menghalangi, dan mendorong mobil.

Berdua saja dengan Monah di dalam mobil, monah yang terus menerus merintih kesakitan. Aku terus berdoa sebisanya, mataku benar benar basah oleh air mata, berkabut sudah tidak mampu melihat dengan jelas sekelilingku.

" Tuhaaaaaaan....!!!" aku menjerit sekerasnya, ketika kulihat tangan berbulu lebat, menyentuh kaca jendela mobil. Berusaha menggapai gapai Monah dari luar. Aku menangis keras.

Untuk pak sopir dan beberapa orang bapak segera datang. Lari lari menuju mobil, dengan membawa peralatan supaya ban mobil bisa keluar dari jebakan lumpur dan batu.

" Kenapa mbak kok menangis?" Pak sopir memasukkan kepalanya lewat jendela mobil, memastikan keadaanku yang menangis ketakutan.
" Tidak apa apa pak, bapak lanjut aja, semoga mobilnya segera bisa jalan lagi," sahutku menenangkan pak sopir.

Alhamdulillah setengah jam kemudian, mobil bisa jalan lagi, fan segera kita menuju ke rumah sakit.

Sesampai di rumah sakit, langsung dilakukan oprasi caesar cito, untuk menyelamatkan nyawa ibunya, karena bayinya sudah meninggal di dalam kandungan selama 2 hari.

Ketika diserahkan kepada keluarganya, kondisinya sudah menghitam dan telinganya banyak bulunya. Bayi itu segara dimakamkan di kebun belakang rumah, yang ternyata sudah ada 4 makam bayi disana.

Setelah seminggu dirawat dirumah sakit, aku dapat telfon dari pihak rumah sakit, kalau kondisi Monah drop, dan harus dirawat di ICU.
Innalillahi wainna illaihi rojiun, tepat 7 hari setelah oprasi caesar, Monah meninggal dunia.

Entah apa yang sebenernya terjadi pada Monah, hanya dia yang bisa menjawab. Misteri itu dibawa masuk ke liang lahatnya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel