Pengertian Ta'aruf


intan.me : Tau nggak artinya ta'aruf? Kalau diartikan saklek dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia, artinya perkenalan.

Boleh nggak diartikan PDKT atau SKSD? Ya silahkan.

Jadi nih tiba-tiba ada yang membahasakan chatting seorang laki-laki ke perempuan buat kenalan lebih dalam via media sosialnya itu ta'aruf, ya nggak apa-apa.

Tepat waktu makan siang, berhadapan dengan cewek cantik yang sedang menikmati makannya sendirian di warung burjo langganan kamu.
Kamu kepo-in kuliahnya dimana, semester berapa, temannya si anu bukan, namanya siapa, aslinya mana, sampai waktu tutup kunjungan kosnya jam berapa, itu kenalan bukan?

Perbedaannya cuma bahasa chatting yang kadang lebih halus dan banyak makna karena tidak melihat ekspresi orang yang ngobrol dengan kamu.
Nah kalau ketemu langsung, kamu mau jawab aja lihat-lihat dulu orang yang ajak ngomong nih tampilannya gimana. Ye kan?

Kosakata berbahasa Arab kadang bisa disalah artikan, seperti yang pernah viral, sandal bertuliskan yumna-yusro dihujat habis-habisan padahal artinya kanan-kiri.

Sebegitu awamnya masyarakat yang penduduknya mayoritas muslim dengan bahasa Arab, alias bahasa Al-Qur'an. Miris nggak?

Sekarang viral lagi, artis yang mengartikan proses pendekatannya sebelum menikah dengan sebutan ta'aruf. Sekali lagi, kalau mau diartikan saklek ya boleh saja.

Tapi kalau diartikan dengan membawa agama islam, bukan ta'aruf. Jangan terlena a a a kau terleenaaa. Serius amat sih!

Jadi ta'aruf islami itu gimana sih?

Menurut pengalaman orang tuaku yang membuat grup biro jodoh di aplikasi hijau, ta'aruf islami itu langkah pertamanya menyerahkan biodata ke salah satu anggota grup.

Biodata seperti apa? Boleh serinci mungkin dari nama, umur sampai ukuran sepatu, atau bisa sebatas nama
, alamat, pekerjaan, kriteria pasangan saja. Bisa cari contohnya di Mbah Gugel.

Setelah anggota grup berembug memasangkan, tukarkan biodatanya ke masing-masing calon. Terverifikasi, ajak ketemuan di dampingi yang bawa biodata masuk grup. Namanya dalam bahasa Arab, nadhor artinya melihat.

Yang dilihat apa? Ya orangnya langsung, nggak cuma foto di biodata atau di media sosialnya doang yang kadang fotonya pakai mode cantik. Kalau bercandar, dibuka cadarnya. Biar jelas, kayak stabilo!

Nah proses nadhor ini sekaligus memantapkan ta'aruf. Boleh tanya apa saja ke calon pasangan, dari mulai cita-cita, visi misi pernikahan, setelah menikah mau diajak ngontrak nggak, sampai sesepele kalau tidur ngorok enggak?

Kalau sudah clear, lanjutkan dengan khitbah alias lamaran. Lagi-lagi, kata khitbah dalam bahasa Arab ini juga disalah artikan. Melamar itu bukan artinya mengabadikan momen pertama pakai baju senada dan pandang-pandangan mesra ya!

Dalam lamaran, garis besarnya adalah memantapkan sekali lagi keputusan untuk menikah. Adat dan budaya dengan membawa berbagai macam makanan daerah, oleh-oleh dan lain sebagainya itu diperbolehkan.


Kalau bisa langsung diskusikan tanggal pernikahan. Sambil memperkirakan jahitan baju untuk menikah jadinya kapan, boleh saja. Yang tidak boleh itu menikah sesuai weton, shio, hari keberuntungan, dan lainnya yang menjurus ke arah syirik.

Ribet ya? Lebih gampang ta'aruf ala ala pacaran ya?
Itu yang ngakunya ta'aruf tapi chattingan tiap hari, ta'aruf bertahun-tahun kayak kredit rumah, ta'aruf sambil jalan-jalan ke pantai.

Ya sudah terserah kamu aja mau memilih ta'aruf yang bagaimana? Cuma mau mengingatkan, jangan ngaku-ngaku lagi ta'aruf kalau ta'aruf mu masih ala ala pacaran.

0 Komentar

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel