Jangan Merasa Paling Benar Sendiri


intan.me : Iya, merasa paling benar sendiri itu tidak baik. Jatuhnya, bisa sombong.
Akan tetapi melenggang bebas tanpa batas juga tidak baik, karenanya kita perlu selektif.
Dua komponen yang tidak bisa dipisahkan, dan saling berkesinambungan.

''Jangan hanya ngaji sama ustadz yang dari kelompoknya saja, tapi sama yang lainnya donk" kurang lebih demikian ujar dari seseorang.

Ini tentunya tidak tepat, faktanya yang demikian ini sudah diperingatkan di masa lalu.
Diantaranya Ibnu Sirin mengatakan:

إن هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذون دينكم

“Ilmu ini adalah bagian dari agama kalian, maka perhatikanlah baik-baik dari siapa kalian mengambil ilmu agama”

(Diriwayatkan oleh Ibnu Rajab dalam Al Ilal, 1/355)

Perhatikan apa yang pernah terjadi di masa lampau, Imam Hasan Bashri memiliki seorang murid.
Namanya, Wasil bin Atho'.


Akan tetapi justru dia memiliki pemahaman lebih mengedepankan akal dari pada wahyu, pungkasnya dia tidak diinginkan oleh Imam Hasan Bashri akibat dari kerusakkan berfikirnya.
Dan dia pun diusir, akhirnya dia menyendiri. Sejak saat itulah, dia dinamakan Mu'tazilah (orang yang menyendiri).

Seorang ulama enggan memiliki murid sesat, apalagi memiliki guru yang sesat.

Ibrahim An Nakha’i berkata:

كَانُوا إِذَا أَتَوْا الرَّجُلَ لِيَأْخُذُوا عَنْهُ، نَظَرُوا إِلَى هديه، وَإِلَى سَمْتِهِ، وَ صلاته, ثم أخذوا عنه

“Para salaf dahulu jika mendatangi seseorang untuk diambil ilmunya, mereka memperhatikan dulu bagaimana akidahnya, bagaimana akhlaknya, bagaimana shalatnya, baru setelah itu mereka mengambil ilmu darinya”

0 Komentar

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel