Dikit Dikit Riba. Riba Kok Dikit Dikit

Dikit-dikit Riba. Riba kok Dikit dikit. Alhamdulillah, orang tuaku memaksaku masuk pesantren sejak dini. Pesantrennya oke lagi. Walau terafiliasi dengan Gontor, tapi porsi belajar kitab kuningnya cukup banyak. Mungkin karena lokasinya berada di Madura.

Di pesantren, wawasan agama kita benar benar di buka lebar. di kelas pemula, kita diajarin wudlu dan shalat menurut madzhab Imam Syafii. Berikutnya diajarkan menurut berbagai madzhab lainnya. Wudu dan shalat aja banyak varian, apalagi soal lainnya.


Dalam al qur'an dan hadist, berbagai persoalan dibahas secara ijmali (global). jadi masih butuh syarah ulama yang diulas dalam kitab kuning. Begitu halnya dengan masalah riba, masalah munakahat, jinayat, dll.


Dalam masalah seks suami istri aja ada kitabnya. kalau ke perpustakaan, ustadz hanya bilang: "Kalau udah dewasa, baru boleh pelajari kitab ini ya." Setelah jadi santri senior, saya coba buka kitab itu. ternyata agak vulgar, tapi tidak sevulgar stensilan anny arrow yang saya baca ketika kulah

Ketika membahas masalah riba, ustadku membawa sekitar 10 tumpukan kitab yang tebal tebal."Kalau mau paham soal riba, baca semuanya. Kalau masih kurang, ambil lagi di perpustakaan" ujarnya yang disambut tawa lepas oleh semua santri dalam satu kelas.


Dalam beberapa kali pertemuan, beliau lalu menjelaskan soal riba berdasarkan pandangan para ulama, dengan segala macam varian. "Yang penting, wawasan agamamu luas, " ujarnya penuh semangat.


Apakah simpan pinjam di bank riba? ternyata pandangan para ulama juga macam macam. ada yang haram, ada yang bolehkan dengan term and condition yang banyak, sedang, dan sedikit. Sang Ustadz wanti wanti, sebaiknya simpan pinjam di bank syariah saja.


Tapi kenyataannya, di Indonesia, cost of fund di bank syariah lebih mahal dari bank konvensional. Muncul di pikiran, kenapa gak ikuti pandangan beberapa ulama al azhar, mesir, yang membolehkan meminjam ke bank konvensional selama untuk investasi? toh, sebagai pengikut, kita akan dibebaskan dari segala tuntutan. para ulama sendiri dijamin oleh Nabi akan mendapatkan pahala: 1 kalau salah, 2 kalau benar.


Intinya dalam soal agama kita harus punya wawasan terbuka. jangan seperti orang buta memegang gajah. tentu dia akan jelaskan gajah sesuai dengan apa yang dipegang. Ini tidak hanya dalam soal riba, dalam soal musik, dan lain lain, kita harus mempunyai pandangan terbuka dulu. 


Caranya: pahami semua pendapat hukum para ulama, lalu pilih yang sesuai dengan hati nurani. selanjutnya, kita gak usah hakimi orang yang beda dengan kita, karena mereka juga mempunyai rujukan.


Kita semua adalah kaum yang sedang hijrah menuju ke arah yang lebih baik, dalam semua soal kehidupan.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel