-->

Diculik Wewe Gombel


intan.me : Ini sebuah kisah nyata yang pernah gue alami, kurang lebih terjadi pada tahun 1998. Saat itu usia gue baru menginjak enam tahun dan sedang senang-senangnya bermain, apalagi di samping rumah ada mushola dan lapangan tempat gue dan teman-teman mengaji, kalau sudah selesai pasti kami bermain sampai jam sembilan malam.

Teringat sangat jelas dalam memori, ketika itu kami tengah asyik bermain selepas salat Isya berjamaah di mushola. Jumlahnya banyak, gue lupa menghitung waktu itu.

"Ayo, kita main petak umpet!" ajak salah satu dari mereka.

Gue yang masih anak bawang, dalam artian lebih kecil dari yang lainnya hanya ikut-ikutan saja tanpa punya pikiran akan ada bahaya yang mengintai.

Setelah hompimpa alaihum gambreng, kami mendapatkan salah seorang yang kalah. Itu artinya ia harus berjaga selagi kami bersembunyi.

Dalam hitungan sepuluh semua teman-teman berlarian mencari tempat persembunyian, sedangkan gue memilih masuk ke dalam rumah supaya sulit ditemukan, licik? Oh, itu namanya trik. Wkwwkwkwk.

Satu per satu semua teman gue sudah ditemukan, termasuk gue. Ya, karena terlihat ada yang nongol di balik gorden saat gue mengecek keadaan di luar. Apes memang.

Waktu semakin malam, salah seorang teman gue belum juga ditemukan. Aneh, ia seperti hilang ditelan bumi. Semua orang ikut mencari, bahkan para orang tua pun ikut turun tangan. Suasana jelas semakin mencekam dan diliputi rasa panik dari orang tua temanku itu.

"Jangan-jangan diculik wewe gombel!" celetuk seseorang.

Jelas saja itu membuat bulu kuduk gue bangkit serempak, hantu itu konon menyukai anak-anak, dan punya dada menggantung panjang buat menyusui anak-anak yang berhasil diculiknya. Sungguh sangat mengerikan.

Sampai pukul 22.30 temen gue belum juga ditemukan, alhasil seluruh warga mencari menggunakan alat pemukul seadanya.

Ada yang menabuh kentongan, pakai panci diadu dengan spatula, dan lain sebagainya. Yang penting menimbulkan bunyi.

"Maya ... Maya ... Maya!" teriak warga memanggil nama teman gue itu.

Kebon di belakang rumah pun didatangi warga sambil berteriak memanggil nama Maya dan memukul alat kentongan. Namun, Maya tidak ketemu, kami mulai menangis sembari berkumpul saling berpegangan supaya tidak ada yang hilang lagi.

Satu jam berlalu, Maya muncul dengan wajah semringah. Di tangannya ada sebungkus gulali warna pink. Semua warga jelas saja lega, tapi juga bingung. Masa, wewe gombel memberinya gulali?

Usut punya usut, ternyata Maya dibawa salah seorang tetangga ke pasar malam. Ya ampun, ada-ada saja. Setelah yang membawa Maya dimarahi warga, kami semua bubar pulang ke rumah masing-masing. Lalu, gue yang masih polos bertanya pada Mamah.

"Memangnya, wewe gombel itu ada?"

"Ada, makanya jangan suka main petak umpet malam-malam. Abis Isya pulang!" ancam Mamah membuat bulu kuduk kembali meremang.

"Disusuin wewe gombel tau rasa!" ketus Mamah gemas.

Dih, membayangkan ketemu wewe gombel saja gue takut, apalagi sampai disusuin. Hilih, ngeri!

0 Komentar

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel