Bertahan Bukan Berarti Bodoh


intan.me : Dia bernama Rudi, si tukang selingkuh. Dia suamiku, ayah dari ketiga anakku. Tak terhitung berapa kali dia selingkuh. Bahkan entah sudah berapa kali wanita datang dengan perut membuncit. Semua tetangga sudah tahu kebusukan Mas Rudi, bahkan sering melihatnya bergandeng mesra dengan wanita seksi.

Mas Rudi memang terbilang tampan, banyak uang, kulit putih bersih dan keperkasaannya membuat banyak wanita gampang terpikat. Apalagi dia pandai merayu. Rayuannya itu juga yang membuat aku dulu percaya dia lelaki baik.

Banyak yang mencap aku bodoh, karena tetap bertahan di dalam rumah tangga yang sudah tak sehat. Semua orang yang geram melihat tingkah suamiku selalu berkata "tinggalkan saja, laki-laki seperti itu tak patut di pertahankan!"

Ada juga yang bilang "kamu gak cemburu liat suami kamu begitu?! Ceraikan saja! Atau hajar aja tuh pelakor!"

Cemburu itu pasti, tapi aku juga tidak mampu menghentikan jiwa petualang cinta Mas Rudi. Mau labrak pelakor? Hanya akan membuat hancur ketenangan di rumah tangga dan buat malu keluarga. Biarlah dia berkelana ke mana saja. Toh, dia juga akan lebih memilih kembali ke rumah dan meninggalkan para pelakor itu.

Lagipula banyak pertimbangan untuk menggugat cerai Mas Rudi. Anak-anak masih butuh pendidikan, masih butuh sosok seorang ayah, aku juga tidak mau menyusahkan orangtua jika kelak kami bercerai.

Orangtuaku hidup susah di kampung, dan aku tidak mau menambah beban mereka. Biarlah diri ini mengikuti takdir yang sudah di gariskan. Selagi suami masih tetap memberi nafkah, dan menyayangi anak-anaknya. Itu sudah cukup bagiku, biar hati ini yang mengalah.

Tapi itu cerita dulu. Kini, si tukang selingkuh itu sudah lemah. Tak sanggup lagi melanjutkan petualangan cintanya. Sakit asam lambung Mas Rudi naik keotak dan merusak syarafnya. Sehingga dia suka berhalusinasi dan ketakutan.

Sebenarnya kasihan melihatnya, di usia yang masih 40 keatas sudah menderita. Tapi mau bagaimana lagi, sebagai manusia kita hanya bisa pasrah menerima takdir.

Usaha Mas Rudi yang sudah berkembang pesat, kini diambil alih oleh putra sulungku. Aku bangga padanya, dia bisa membagi waktu antara kuliah dan pekerjaan.

Aku juga sudah memperbaiki rumah dan membelikan sawah untuk orangtuaku di kampung. Alhamdulillah ibu dan ayah berumur panjang.

Aku tidak bisa membayangkan, apa jadinya aku bila dulu mengikuti ego dan lebih memilih pisah dengan Mas Rudi. Mungkin sekarang para pelakor itu yang akan menikmati kesuksesan usaha suamiku.

Aku percaya ini semua adalah hasil dari kesabaranku. Dan apa yang di derita Mas Rudi, adalah karma atas segala perbuatannya.

Terinspirasi dari kisah nyata seseorang.

0 Komentar

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel