Anak Adopsiku Anak Kandungku


intan.me : Aku menatap istriku dengan dengan wajah bersalah, dia yang dari tadi nyerocos ngomelin aku mendadak melunak. Andai dia tahu apa yang membuatku begitu merasa bersalah.

“Ya udah, laen kali Ayah jangan ulangi lagi. Bunda gak suka Deno Ayah biarkan main hujan. Demam kan nih, kan bunda yang repot. Ayah kan tau susahnya ngasuh anak, mana ke dokter pasti banyak biaya. Lagian, kasian Denonya jadi sakit gini kan.. awas kalo diulangi lagi, gak akan bunda maafkan..”

Lah, masih lanjut ngomel pula istriku ini. Memang ya perempuan dimana-mana, bakat ngomel kian terasah ketika menikah. Padahal, sebelum menikah Istriku ini lembut banget ngomongnya. Hmm, dimana-mana wanita bisa aja modusnya memikat kaum adam.

Tapi aku sangat mencintai istriku. Dia pun tampak sangat menyayangi Deno, anak angkat kami yang kami adopsi dari sejak dia lahir dari sebuah rumah sakit bersalin, tepat sehari setelah dia dilahirkan. Biaya bersalin ibunya pun semua kami yang menanggungnya sesuai kesepakatan kita dengan ibu biologis Deno.

Deno kami adopsi setelah 10 tahun pernikahan aku dan Nina yang belum membuahkan cabang bayi. Istriku ternyata didiagnosa PCOS oleh dokter sehingga sulit untuk memberikan keturunan. Namun aku sangat mencintai Istriku. Dia wanita karir yang tetap memperhatikan kebutuhanku.

Sebelum ke kantor, dia selalu menyiapkan sarapan dan bekal makan siangku. Sepulangnya dari kantor, dia akan memasakkan makan malamku. Ya memang aku tidak terlalu suka makan diluar, mungkin karena aku dibesarkan dengan masakan ibuku sehingga aku terbiasa makan makanan masakan rumah. Namun terkadang kami tetap makan diluar sambil menikmati suasana pacaran halal.

Dengan kehadiran Deno, banyak yang berubah dari rumah tanggaku. Perang dingin antara Ibuku yang sebenarnya kurang sreg dari awal dengan istriku, ditambah menantunya yang dicapnya mandul tersebut kian mencair. Mereka kini telah akur dan hangat.

Alasan menengok cucu menjadikan Ibuku sering bertandang ke rumah kami dan menjadikan Ibu dan Nina, istriku kian akrab. Deno memang balita yang sangat menggemaskan. Di usia 4 tahun kini, badannya montok dan sehat, aktif serta cerdas. Siapapun pasti gemas melihatnya.

Deno kami titipkan ke mertuaku saat kami bekerja karena kondisi ibuku yang memang tak sesehat orang tua nina. Lagipula, istriku merasa lebih nyaman jika Deno bersama orang tuanya.

Istriku tak pernah rela jika ada yang menyebut status Deno yang sekedar anak adopsinya dan tak pernah mau membicarakan sejarah hadirnya Deno kepada siapapun. Dia hanya ingin orang-orang tau Deno adalah anak kandungnya.

Bahkan hubungan istriku dengan Santi, kawan akrabnya sejak semasa SMA sampai mereka bekerja di kantor yang sama, merenggang karena Santi pernah mengungkit status Deno. Beruntung kami tinggal di komplek yang para Ibu-ibunya tak terlalu perduli urusan orang dan tak senang bergosip.

Mereka sibuk dengan urusan masing-masing dan cenderung menghindari konflik.  Ketika akikahan Deno dulu, istriku secara tak langsung telah mewanti-wanti tetangga untuk jangan ada yang pernah mengungkit status Deno karena jika itu terjadi apalagi sampai terdengar di telinga Deno, dia mengancam akan pindah dari komplek ini. Di kartu keluarga kami pun Deno tertulis sebagai anak kandung.

Aku sangat senang istriku sekarang terlihat lebih bahagia. Dia menganggap Deno adalah sumber keberuntungannya. Selain Nina jadi bisa merasakan menjadi seorang Ibu, sejak kehadiran Deno, istriku naik jabatan dan terpilih menjadi wakil di kantornya untuk menghadiri pelatihan singkat di Singapur, Amerika, dan Belanda selama 3 tahun berturut-turut.

Ditambah lagi, tidak ada kecurigaan dari orang-orang yang baru kami temui maupun teman-teman lama kami saat reuni tahun lalu kalau Deno hanya anak adopsi. Mereka bilang wajah Deno mirip denganku. Ya, bahkan tetangga-tetangga kamipun mengamini kalau memang wajah Deno sangat mirip denganku. Istriku senang, karena memang kata orang anak adopsi jika dirawat dengan kasih sayang tulus akan mirip dengan orangtua mereka.

Istriku bahagia, walau masih tetap berharap ingin memberikan adik bagi Deno. Aku bahagia melihat kebahagiaan istriku, sekaligus tak bisa menghilangkan rasa bersalah ini. Ya, mungkin hanya aku, ibuku, dan ibu kandung Deno yang mengetahui rahasia kehadiran balita menggemaskan ini ke muka bumi.

Ibuku sangat ingin memperoleh anak dariku karena aku adalah anak semata wayangnya. Saat ayahku meninggal 5 tahun lalu, Ibuku depresi berat dan mengancam ingin menyusul ayahku jika aku tak memberinya cucu.

Ibuku memaksaku menikahi gadis yang dipersiapkannya untuk memberikannya cucu darah dagingku. Aku yang awalnya menentang keras, akhirnya tak bisa menolak permohonan perempuan yang telah melahirkanku ini.

Dengan berat hati aku menerimanya walaupun dengan mengajukan syarat yang diterima ibuku dan Ria, gadis itu, yakni, setelah melahirkan anakku, aku akan menceraikannya. Syarat kedua, aku dan istriku yang akan merawat anak ini.

Aku heran, semudah itu gadis itu menerima syarat yang aku ajukan namun belakangan aku ketahui keluarganya memang terlilit hutang dengan rentenir. Ria tak punya pilihan lain karena teror dan ancaman rentenir itu yang membuatnya akhirnya menyetujui bujukan ibuku untuk melahirkan anakku dan persyaratan dariku untuk menceraikannya setelah melahirkan anakku.

Memang pada awalnya aku berpikir keras bagaimana membujuk istriku untuk mengadopsi anak. Namun, keberuntungan memang berada dipihakku karena tiba-tiba istriku ingin mengadopsi anak, pancingan juga katanya agak dia bisa segera hamil.

Aku dan ibuku pun mempersiapkan sandiwara seolah-olah memang suatu kebetulan kami mengadopsi Deno yang baru lahir. Ibuku menyuruh tetangganya menelepon istriku untuk memberitahukan bahwa ada saudaranya yang tak punya biaya untuk menebus kelahiran anaknya dan ingin memberikan bayi tersebut ke siapapun yang membantu menebus biaya rumah sakit.

Kini, 4 tahun telah berlalu dan segalanya berjalan lancar. Istriku yang bahagia, ibuku yang bahagia dan aku yang tetap menyimpan rasa bersalah ini ditengah kebahagiaan dua wanita yang sangat berarti dalam hidupku ini.

Dengan karir yang melesat, istriku menjadi cukup kerepotan untuk berbagi waktu kantor dan pengasuhan Deno. Selama ini setiap waktu istirahat istriku selalu menyempatkan pulang menjenguk Deno. Nina juga pulang cukup awal tanpa lembur untuk menjemput Deno dan mengurusnya di rumah kami. Namun kini, ia sering lembur sehingga aku yang selalu menjemput Deno.

“Mas, kita cari pengasuh ya buat Deno. Kasian mas, kantor mas kan jauh dari rumah ibuku. Terus kasian Deno bisa masuk angin terus kalau kelamaan di jalan naik motor pulang kerumah”. Jika tidak bersama Deno, panggilan ayah bunda sejenak kami lupakan.

Aku memang bolak balik ke kantor menggunakan motor, sedangkan istriku mengendarai mobil. Karena mobil hanya satu di rumah dan tak mungkin untukku mengantar jemput istriku. Lagipula istriku akan lebih aman dan leluasa mengantar jemput Deno yang balita dengan mobil, tidak takut terkena panas dan hujan.

“Terserah baiknya adek aja. Tapi jangan yang nginap. Mas gak nyaman kalau ada orang asing tinggal bersama kita, apalagi itu wanita”.
“Siap bos.. laksanakan” Istriku tersenyum sumringah.

Seperti biasa di hari minggu, setelah subuh aku selalu tidur lagi dan bangun agak siang, sekitar jam 9, tidak terkecuali hari minggu ini. Setelah mandi akupun keluar kamar hendak sarapan. Walau hari minggu, sarapan akan selalu tersedia di meja makan sebelum aku memintanya. Namun kali ini tak kulihat Nina dan Deno, kemana mereka. Namun karena lapar, akupun langsung makan. Tak lama kudengar deru mobil di depan rumah. Oh, mungkin istriku membawa Deno jalan-jalan.

“Assalamualaikum… Ayah, ini Bunda abis jemput Mbak yang akan bantuin kita mengasuh Deno di rumah.” Istriku setengah berteriak dari ruang keluarga menuju ruang makan.”
Aku menghentikan makanku dan menoleh sambil tersenyum. Mendadak, mataku nanar, kepalaku langsung pusing, jantungku berdetak hebat. Diaa….

“Yah, kenalin, ini Ria. Aku dikasih tau ibu kalo ada sodara tetangganya yang lagi butuh kerja dan mau jadi pengasuh dan bantu-bantu pekerjaan rumah disini” Istriku berkata dengan polosnya.
Mendadak sekitarku menjadi gelap.

0 Komentar

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel