Akibat Melalaikan Hutang


intan.me : Di angkat dari kisah nyata. "Mbak, aku mohon ... tolong kami sekali ini saja. Rania anak kami sedang sakit parah dan sekarang tengah dirawat di ruang ICU." Bergetar kudengar suara Fatma, adik sepupu dari suamiku.

Aku menerima kedatangannya di ruang tamu rumahku. Air mata tak henti meleleh dari kedua matanya yang cekung dengan lingkaran gelap di sekitarnya. Pertanda ia telah berhari-hari di dera lelah.

Kuhela nafas mendengar permintaan Fatma yang begitu mengiba. Sebagai ibu dari dua orang anak, aku merasa terenyuh mendengar keadaan Rania, anak Fatma. Tentunya tak ada orang tua mana pun di dunia ini yang ingin diberi ujian lewat ananda tercinta.

Tapi ... untuk kali ini, dengan berat hati aku terpaksa menolak keinginan Fatma. Walau hal itu sebenarnya juga bertentangan dengan nuraniku sendiri.

"Maaf, Fatma. Bukan tak mau membantu, tapi kami juga kebetulan sedang kosong saat ini. Mas Ilham sudah beberapa bulan sejak pandemi, gajinya dipangkas hampir 50%." Aku berkata dengan hati-hati agar tidak menyinggung perasaan saudara kami itu.

Mata Fatma meredup. Air matanya kembali jatuh. Sungguh tak sampai hati sebenarnya, tapi aku harus tega untuk kali ini.

"Tapi Mbak Ranti kan masih kerja, masa gak ada sedikitpun, Mbak? Kumohon, pinjami aku sepuluh juta saja. Kalian kan pasti punya simpanan, Mbak. Tolonglah, pandang Rania, Mbak ...." ratapnya lagi. Ia bahkan menangkupkan kedua tangan di dadanya. Sungguh memelas.

"Maaf, Fatma. Kami memang ada sedikit tabungan, tapi itu sudah ada pos tersendiri. Tahun ini Faiz akan masuk pesantren di Bogor, dan tabungan itu memang kami persiapkan buat ini," jawabku. Mati-matian membunuh rasa tak enak yang kerap kali membuatku susah sendiri ini.

"Tapi nyawa anakku lebih penting Mbak, dari pada sekolah Faiz. Kenapa Mbak nggak minta tangguhkan saja biaya masuk pesantrennya Faiz, sembari menunggu kami mengembalikan pinjaman dari Mbak Ranti?"

Kutatap lekat wajah Fatma. Begitu mudahnya lisan itu bertutur, meremehkan urusan pendidikan Faiz, putra sulungku. Memang nyawa anaknya penting, namun bukan haknya Fatma juga untuk mengatur-aturku sedemikian rupa.

"Mbak, obat yang hari harus kami tebus itu harganya jutaan. BPJS tidak mengcover untuk obat tersebut. Bukalah sedikit hatimu, Mbak. Kasihanilah anakku Rania ...."

Ya Allah ... aku membatin. Sungguh ini sulit. Aku seperti berada pada persimpangan dan sulit menentukan jalan mana yang harus kupilih.

"Fat, hutang suamimu yang tiga juta saja belum kalian cicil seperek pun, terhitung sudah hampir dua tahun kalian meminjamnya dari kami. Untuk kali ini, aku minta maaf karena tak bisa membantu. Aku tak mau main-main untuk urusan pendidikan Faiz," tegasku akhirnya.

Kedua bola mata Fatma membulat sempurna sembari menatapku tak percaya. Wajahnya yang tadi pucat, kini dihiasi semburat merah. Entah malu atau marah, aku tak tahu isi hati Fatma saat ini.

"Jadi Mbak nggak mau minjamin kami uang karena alasan itu? Ya Allah Mbak, teganya kamu. Saat ini anakku sedang berjuang melawan maut, tapi Mbak malah mengungkit hutang yang lalu. Dasar nggak punya hati!" rutuknya sembari menatapku nyalang.

"Loh, kok urusan anakmu yang sakit seolah jadi kewajiban kami sih, Fat? Kamu kan punya orang tua, punya saudar kandung, kenapa nggak ke mereka saja kamu minjamnya? Kenapa harus kamu bebankan ke kami?" ujarku yang mulai sedikit emosi.

Fatma tiba-tiba berdiri. Ia berkacak pinggang di hadapanku.

"Hari ini kamu catat ya, Mbak Ranti, gimana perlakuanmu kepada kami yang sedang susah ini. Perbuatanmu ini biar dicatat oleh malaikat. Semoga saja ada di antara kedua anakmu yang akan mengalami hal serupa seperti yang dialami Rania anakku. Ingat itu, Mbak!"

Fatma seperti orang kesetanan sambil menunjuk-nunjuk wajahku. Mendidih juga aku dibuat sepupu mas Ilham ini.

"Hei Fatma, kenapa kamu jadi marah dan menyumpahi anak-anakku segala? Kalau saja kamu dan suamimu tak menyepelekan hutang kalian pada kami yang tiga juta itu, mungkin aku akan memberikan pinjaman hari ini kepadamu. Tapi, yang tiga juta saja kalian lalaikan mentang-mentang kami tak menagih, lalu bagaimana dengan sepuluh juta yang hendak kamu pinjam hari ini?" Aku balas menghardiknya.

"Dasar manusia nggak punya hati! Nggak punya empati! Kau dan seluruh keluargamu akan kena tulah dariku yang kalian zolimi hari ini! Allah tidak tidur!" Fatma makin menjadi-jadi.

"Pergi kau Fatma dari rumahku ini!" Terpaksa kuusir perempuan itu sebelum darah ini bergolak lebih panas lagi.

****

"Innalillahi wainna ilaihi roji'un ... baik, baik, kami akan segera ke sana. Yang sabar ya, Dek. Kami turut berduka cita yang sedalam-dalamnya."

Kudengar mas Ilham berbicara dengan seseorang di telepon.

"Siapa yang meninggal, Mas?" tanyaku saat ia menghampiriku yang tengah duduk sambil melipat cucian.

"Rania, anaknya Yudi," jawab mas Ilham.

Deg!

Seketika aku teringat pada pertengkaran dengan Fatma dua hari yang lalu.

"Ayo, Dek. Kita siap-siap ke rumah duka sekarang," ajak mas Ilham. Aku hanya bisa mengangguk tanpa suara. Ada rasa bersalah yang menyelinap dan tak kuasa kucegah.

'Ini sudah takdir, Ranti. Kematian Rania bukan kesalahanmu.' Berkali-kali aku mensugesti diri sendiri. Meyakinkan diri sendiri bahwa kematian Rania anak Fatma karena memang sudah takdir. Penyakit dan lain-lain hanyalah penyebab, namun Allah yang berkuasa untuk menentukan.

****

Halaman rumah Fatma terlihat penuh oleh keluarga dan para tetangga yang datang melayat. Mas Ilham terpaksa memarkir mobil kami agak jauh karena tak memungkinkan untuk parkir di halaman rumah Fatma yang tampak sesak itu.

Ketika turun dari dalam mobil, dapat kudengar suara tangis Fatma yang menyayat hati. Tangan dan kaki tiba-tiba terasa dingin. Rasa bersalah ini mencuat lagi.

Kuikuti langkah mas Ilham dari belakang dengan rasa gamang. Beberapa kerabat menyapa kami saat sedang berjalan ke rumah Fatma. Mas Ilham langsung membaur dengan pelayat laki-laki yang sedang membuat peti mati di samping rumah Fatma.

Sedang aku dengan hati berdebar masuk ke dalam rumah Fatma.

"Assalamualaikum," ucapku memberi salam. Semua yang ada di dalam menjawab salamku sembari menoleh ke arahku.

"Mau apa kau datang?!" Tanpa kuduga, Fatma menyentak kasar begitu menyadari kehadiranku.

"Pergi kau, pergi ...! Dasar manusia tak punya hati! Anakku mati gara-gara kau! Huhuhu ...." Fatma berkata lalu menangis meraung-raung. Beberapa orang mencoba menenangkannya sembari meminta Fatma mengucap istighgar.

Sontak semua mata langsung tertuju pada diri ini. Aku merasa malu sekali ditatap dengan penuh penghakiman oleh orang-orang itu. Tanpa menunggu lagi, aku langsung saja keluar. Kutahan air mata yang nyaris tumpah, agar aku tak terlihat makin memalukan di depan mereka semua.

Aku berlari keluar. Sekilas kulihat mas Ilham tercengang mendapati aku yang terburu-buru keluar dari rumah Fatma. Mas Ilham mengejarku, dan kami pun masuk ke dalam mobil setelah ia menekan tombol unlock pada kunci mobil.

Di dalam mobil, kutumpahkan tangis sejadi-jadinya. Mas Ilham yang kebingungan namun, dengan bijak memilih diam. Dibiarkannya aku menangis sampai puas hingga tangisku berganti isakan sesekali.

"Sudah agak tenang sekarang?" tanyanya. Aku mengangguk.

"Sudah bisa cerita apa yang terjadi?" Ia bertanya lagi. Lagi, aku pun mengangguk.

Kutarik nafas dalam-dalam, lalu kuceritakan dari awal mula kedatangan Fatma hingga penolakanku yang berujung pertengkaran di antara aku dan sepupunya itu.

Mas Ilham mengusap-usap rambutku pelan saat air mata kembali meleleh.

"Katakan, Mas. Apakah aku memang membunuh Rania karena tak meminjamkan uang pada Fatma?" Giliran aku bertanya.

"Tidak, Sayang. Semua yang terjadi tentu sudah atas kehendak-Nya. Kalau mau dicari siapa yang salah, tentu yang memberi penyakit, bukan? Sedang yang memberi penyakit adalah Allah. Apa pantas kita menyalahkan Allah?" Perkataan mas Ilham seketika melegakanku.

"Tapi ... mungkin kita juga harus belajar lebih bijak dalam menentukan sikap. Ada kondisi tertentu yang mengharuskan kita lebih mengedepankan nurani ketimbang logika. Dalam keadaan darurat seperti Fatma kemarin misalnya," tambah mas Ilham.

Ya, perkataan suamiku memang ada benarnya. Mungkin seharusnya pada waktu itu aku lebih bijak dalam membuat keputusan. Rania sakit, dan Fatma panik. Sedangkan aku yang dia harapkan untuk dapat membantunya pada saat itu.

"Tapi aku bukan penyebab meninggalnya Rania kan, Mas?" tanyaku sekali lagi.

"Tidak, Sayang. Takdir setiap insan sudah tertulis di Lauhul Mahfuz bahkan sebelum manusia itu sendiri terlahir ke dunia." Jawaban mas Ilham lagi-lagi membuatku lega.

Sedikit demi sedikit perasaanku mulai netral. Mungkin nanti aku bisa mengajak Fatma berbicara saat keadaannya sudah lebih baik dan tenang. Aku akan meminta maaf meski kesalahan tidak sepenuhnya ada di pihakku.

0 Komentar

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel