Objek Logika Manusia Dan Pengetahuan





intan : Oleh karena yang berfikir itu manusia, maka harus dikatakan bahwa lapangan penyelidikan logika ialah manusia itu sendiri. Tetapi manusia ini disoroti dari sudut tertentu yaitu budinya.

Budi atau pikir ini masih juga disoroti dari beberapa sudut. Misalnya ditanyakan, dapatkah budi itu mencapai kebenaran, dalam arti persesuaian pengetahuan objeknya, dan kalau sekiranya dapat, sampai dimanakah kemampuan budi itu mencapai kebenarannya?

Dapatkah mencapai 100persen atau hanya sebagian saja? Ada pula pertanyaan, bagaimanakah manusia dengan budinya mencapai pengetahuan? Dan seperti kami katakan diatas  dapat pula dipersoalkan, bagaimanakah aturan berfikir itu?

Semua pertanyaan yang bersangkutan erat dengan budi manusia, sehingga dapatlah semua disebut logika dan karena adanya bermacam-macam sudut penyorotan, maka bermacam-macam logika juga, serta ada yang memberikan nama bermacam-macam juga. Bermacam-macam logika itu berlainan satu sama lain,disebabkan oleh karena objek forma lainnya.

   * Kata  " logis " yang dipergunakan orang itu memang dari kata logika artinya: menurut aturan logika.

Adapun yang kami maksud disini dengan istilah logika, ialah filsafat budi (manusia) yang mempelajari tehnik berfikir untuk mengetahui bagaimana manusia itu berfikir dengan semestinya (dengan seharusnya). Jadi obyek forma logika ialah mencari jawaban : bagaimana manusia dapat berfikir dengan semestinya.


Manusia berfikir itu untuk tahu. Kalau tidak berfikir tidak semestinya mungkin ia akan mencapai pengetahuan yang benar. Tak seorangpun mencita-citakan kekeliruan; ia ingin mencapai kebenaran dalam tahunya itu. 

Adapun manusia, kalau tahu tentang sesuatu, ia mengakui sesuatu terhadap sesuatu itu. Kalau orang tahu tentang sebuah rumah(sesuatu), mungkin ia tahu juga bahwa rumah itu besar atau kecil. Maka besr dan kecil inilah diakui hubungannya dengan rumah itu.

Manusia mengakui, tidak membuat hubungan itu. Ada kemungkinan bahwa ia mengakui hubungan yang tidak ada, maka kelirulah ia. Pengakuan sesuatu terhadap sesuatu ini merupakan dasar pengetahuan, malahan itu sebetulnya pengetahuan. 

Pun dalam hal yang amat sederhana , kalau orang mengatakan; 'itu rumah'. Disinipun ada pengakuan sesuatu (rumah) terhadap sesuatu (hal yang dihadapinya), sehingga tanpa mengubah maksud, boleh juga dikatakan; 'hal yang saya hadapi itu rumah'.

Apa pengetahuan itu juga tidak merupakan pengingkaran? Misalnya dalam pengetahuan bahwa; 'rumah itu tidak besar' memang menurut bentuknya, ini pengingkaran, negatif. Tetapi pengetahuan yang sebenarnya adalah positif atau pengakuan. 


Dalam bentuk ingkar tersebut diatas, orang tahu, bahwa ada rumah besar menurut ukuran positif yang ada padanya. Itu dasarnya dulu, setelah itu diketahui, maka ternyata, bahwa rumah itu tidak mempunyai sifat itu; tetapi tentu adalah positif pada rumah itu, misalnya indah, mahal, bersih, dan lain sebagainya.

Pengetahuan adalah positif. Lebih teranglah hal ini dalam pengetahuan yang dipunyai orang; 'daun itu tidak merah'. Orang itu tahu benar, bahwa daun itu hijau atau kuning. Jika sekiranya ia tidak mempunyai pengetahuan yang positif itu, tak mungkin ia tahu bahwa daun itu tidak merah. 

Memang harus diakui, menurut bentuknya mungkinlah pengetahuan ada yang positif dan ada yang negatif. Tetapi sekali lagi; dasar pengetahuan adalah positif, sebab jika ada sesuatu dihubungkan dengan sesuatu haruslah positif.

0 Komentar

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel